Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

MENJELANG PENDAFTARAN CPNS PENCARI KARTU KUNING MENINGKAT TAJAM

Thursday, November 11, 2010

Menjelang pendaftaran calon pegawai ngeri sipil (CPNS), pencari kartu kuning di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Lumajang, meningkat tajam, terutama sejak tersebar kabar satu bulan ini, yaitu akan dibukanya masa pendaftaran tersebut. Peningkatan pencari kartu kuning itu, mencapai 10 % daripada hari-hari biasa. Hal itu, disampaikan Kepala Disnakertrans, Ismail, S.H., Dikatakannya, Kalau hari-hari biasa masyarakat yang mencari kartu kuning hanya sekitar sepuluh orang setiap hari, maka dalam satu bulan ini menjadi ratusan orang

Menurut Ismail, membanjirnya pencari kartu kuning itu, ukan hanya karena akan dibukanya masa pendaftaran CPNS formasi 2010. Tetapi, hal juga ada ubungannya dengan pendataan pegawai honorer daerah (honda) yang akan dimasukkan data base di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) RI. Kartu kuning, diketahui merupakan salah satu syarat, baik untuk pendaftaran sebagai CPNS maupun calon karyawan perusahaan

Sehubungan dengan meningkatnya pencari kartu kuning tersebut, pihak Disnakertrans, menambah loket pelayanan. Kalau hari-hari biasa, hanya dua loket dengan dua petugas saja, tetapi, saat sekarang loket pelayanan ditambah menjadi lima dengan mengerahkan semua pegawai yang tidak melaksanakan tugas pokok, untuk membanunya. Hal itu, untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pencari kartu kuning

Diungkapkannya, untuk mengurus kartu kuning itu, sebenarnya tidak sulit, asalkan syaratnya terpenuhi. Syaratnya meliputi: foto copy ijazah terakhir, foto copy KTP, pas foto,dan jika memiliki sertifikat ketrampilan, agar difoto copy sebagai kelengkapan data di Disnakertrans. Kelengkapan itu penting, sehingga kalau ada perusahaan yang memerlukan tenaga kerja tinggal membaca data tersebut.

PENGUMUMAN PANGGILAN PESERTA LOLOS PSIKOTEST PROGRAM REKRUTMEN DAILY ONLINE APPLICATION (DOA) PERIODE I PT PLN (PERSERO) TAHUN 2010

Monday, November 8, 2010

Sumber : SDM

PENGUMUMAN PANGGILAN PESERTA
LOLOS PSIKOTEST
PROGRAM REKRUTMEN
DAILY ONLINE APPLICATION (DOA) PERIODE I
PT PLN (PERSERO) TAHUN 2010


Bersama ini diumumkan daftar nama Peserta Program Daily Online Application (DOA) Periode I yang berhasil lolos di tahap Psikotest dan WAJIB untuk mengikuti Penjelasan Pelaksanaan Tes Kesehatan.

Lokasi & Waktu Penjelasan Tes Kesehatan:

Lokasi :
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur
Jl. Embong Trengguli 19 - 21
Surabaya

Tempat :
Ruang Mojopahit

Hari/Tanggal :
Sabtu, 6 November 2010

Waktu :
Pkl. 08.00 s/d. Selesai

Adapun Pelaksanaan Tes Kesehatan akan dilakukan pada:
Hari/Tanggal :
Sabtu, 13 November 2010
(Waktu & Tempat akan dijelaskan dalam Penjelasan Tes Kesehatan)

Ketentuan Penjelasan Tes Kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Peserta diharapkan untuk datang tepat waktu & membawa alat tulis.
2. Peserta berpakaian rapi, tidak mengenakan sandal.
3. Peserta diharapkan untuk mengisi & mengumpulkan Surat Pernyataan bermaterai untuk tes kesehatan, yang dapat didownload pada format di halaman berikut.

Untuk daftar nama peserta yang lolos dapat dilihat pada link berikut :

Daftar Nama Peserta Lolos DOA-I




Jakarta, 3 November 2010

Panduan Agar Bercinta Terasa Menyenangkan

Saturday, November 6, 2010


Jakarta - Anda tak juga mengalami kepuasan saat bercinta? Mungkin kegiatan itu belum terasa menyenangkan bagi Anda. Agar kegiatan bercinta terasa menyenangkan, ikuti panduan dari woman24 berikut.

Ubah pikiran Anda
Ubah pikiran Anda mengenai kegiatan bercinta. Ingat, kegiatan bercinta bukanlah wadah pelampiasan nafsu biologis semata. Itu juga merupakan bentuk rasa cinta Anda dan suami. Lakukanlah dengan sepenuh hati dan perasaan.

Seks bukan pekerjaan
Jangan samakan kegiatan bercinta dengan pekerjaan Anda di kantor atau di rumah. Justru jadikan kegiatan bercinta sebagai kegiatan pelepas penat, atau sarana untuk menyampaikan rasa cinta dengan pasangan. Jangan jadikan kegiatan ini sebagai beban untuk Anda.

Kenali tubuh Anda
Mengenali tubuh Anda adalah salah satu cara untuk menikmati kegiatan bercinta. Dengan mengenali tubuh, Anda dapat mengetahui titik-titik kenikmatan di tubuh. Dengan mengetahui hal itu, Anda bisa merasakan kenikmatan yang utuh saat bercinta.

Temukan apa yang membuat hasrat bercinta Anda muncul
Mengetahui hal yang membangkitkan hasrat dan libido akan membuat kegiatan bercinta semakin menyenangkan. Hal ini juga bisa memberi ide pada suami Anda untuk menentukan foreplay yang paling tepat untuk kalian berdua.

Melatih Miss.V
Merawat Miss.V juga merupakan salah satu langkah agar kegiatan bercinta semakin indah. Melatih otot miss.V dengan senam kegel akan membuat Anda dan suami merasakan kenikmatan yang lebih.

Mempercantik miss.V dengan melakukan waxing serta vagina spa juga akan membuat penampilan Anda di kamar tidur lebih menggairahkan.

Otak Membuat Wanita Tak Menikmati Seks


Jakarta - Peneliti berhasil menemukan alasan libido wanita yang tidak stabil. Ini dia penjelasannya.

Penelitian itu dilakukan oleh ilmuwan dari Amerika Serikat. Dikutip dari Dailymail, hasil penelitian itu menyebutkan bahwa, otak perempuan memiliki reaksi yang sangat berbeda saat mereka tengah mengalami penurunan libido.

Saat libidonya turun, aliran darah mereka tak bisa menyentuh sel-sel otak yang mempengaruhi kepuasan seksual. Itulah sebabnya, saat libidonya turun, wanita tetap tak bisa menikmati kegiatan bercinta, walau telah mengalami rangsangan.

Rangsangan dari gambar masih bisa melancarkan aliran darah wanita yang memiliki tingkat libido normal. Namun bagi wanita yang memiliki tingkat libido rendah, rangsangan lewat gambar sama sekali tak mempengaruhi aliran darahnya menuju sel otak yang mempengaruhi kepuasan seksual.

Dr Michael Diamond, salah satu peneliti mengungkap bahwa ada pendekatan lain untuk menyelesaikan masalah seksual pada wanita. Michael mengungkapkan bahwa pendekatan psikologis adalah hal yang paling tepat.
(kee/kee)

Hati-Hati, Pil KB Bikin Wanita Mudah Cemburu Kiki Oktaviani - wolipop

Jakarta - Pil KB adalah alat kontrasepsi yang umum digunakan oleh wanita untuk mengontrol kehamilan. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa wanita yang menggunakan pil KB menjadi lebih posesif dan cemburuan.

Para peneliti menemukan beberapa merek pil KB dengan tingkat estrogen yang tinggi. Hal ini memicu wanita menjadi lebih curiga, posesif dan cemburu.

Penemuan ini masih berhubungan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 3,5 juta wanita Inggris berusia 16 hingga 49 tahun. Terdapat efek samping emosional dari penggunaan pil KB tersebut, seperti yang dikutip Dailymail.

Dalam studi terbaru, peneliti dari Universitas Stirling, Scotlandia, mempelajari 275 wanita berusia 17 hingga 35 tahun. Semua peserta menggunakan berbagai tipe pil KB kombinasi selama tiga bulan yang mengandung estrogen dan progesteron sintetis.

Hasil yang ditemukan, dosis tinggi estrogen dalam pil KB membuat wanita cenderung lebih cemburuan. Tapi progesteron ternyata tidak berperan dalam perubahan emosi pada wanita.

"Oleh karena itu, wanita harus selektif dalam memilih merek pil KB. Dosis estrogen tinggi dapat mengubah emosi", kata dr. Craig Roberts, salah satu peneliti.

Selain itu, wanita yang menggunakan pil KB dengan dosis estrogen yang tinggi dikhawatirkan bisa lebih sulit untuk membangun dan memelihara hubungan dengan pasangan. Peneliti juga mengungkapkan bahwa pil KB membuat wanita lebih sering termenung dan mengalami perubahan selera pada pria.

Namun, di balik semua fakta negatif dari pil KB, terdapat fakta positif. Sebuah studi lain menyatakan pil KB dapat meningkatkan kecerdasan wanita. (kik/fta)

Gunung Lamongan, Melihat Danau dari Ketinggian

Wednesday, November 3, 2010

Pemandangan Ranu Pakis, Ranu Klalah dan Ranu Bedali dari ketinggian 1600 mdpl ditawarkan oleh puncak Gunung Lamongan. Argopuro dan kepulan asap Semeru juga dapat kita saksikan dari sana. Dan jalanan berbatu akan mengantar kita menuju puncaknya.
Hujan deras mengguyur, begitu bus sampai di terminal Banyu Angga Probolinggo menjelang maghrib. Kami pun harus berbasah mengejar bus Jurusan Jember yang akan mengantar ke pasar Klakah, Lumajang. Maklumlah, namanya juga musim hujan. Semoga nanti malam dan esok hari kecerahan akan mengiringi kami. Doa itulah yang kami lantunkan dalam hati, sambil menyeka air hujan yang membasahi tubuh.
Di Klakah kami sempatkan untuk membungkus nasi dan membeli perbekalan yang masih kurang. Kemudian, dengan ojek perjalanan berlanjut menuju rumah Mbah Citro, titik awal pendakian. Sebenarnya bisa saja kita jalan kaki dari pasar yang jaraknya sekitar 10 km itu. Namun malam dan cuaca yang tidak bersahabat mengurungkan niat kami.
Mendung menggantung dengan kilatan cahaya mengiringi perjalanan ojek. Sosok Gunung Lamongan nampak sangar di kejauhan, tiap kali kilatan cahaya membelah hitamnya langit. Duh rasanya kok jadi sedikit mistis ya, batin saya.
Make a Wish
Sekitar setengah jam kemudian, sampailah kami di kediaman Mbah Citro. Sesepuh sekaligus juru kunci Gunung Lamongan. Sebuah pendopo dengan teras yang luas menyambut kedatanagn kami. Tiga buah pelita minyak menerangi tempat itu. Rupanya milik tiga ibu yang menjajakan makanan di pendopo berlantai keramik itu. Hanya tiap malam Minggu saja mereka berjualan, maklum hari itulah biasanya ramai pengunjung.
Kami pun segera larut dalam suasana pendopo, berbincang dengan pengunjung yang telah datang sebelumnya. Bahkan, Wahid, salah seorang pengunjung kemdian mengajak kami mengunjungi gunung Fuji yang puncaknya hanya beberapa meter dari pendopo. Lelaki yang sering menjadi pemandu bagi tamu dari Bali yang berkunjung ke Gunung Lamongan itu kemudian menceritakan berbagai hal tentang gunung itu. Mulai dari jalur hingga puncaknya. Dengan suka cita kami mendengarkan semua penuturannya.
Menurut lelaki ramah itu, Lamongan merupakan salah satu gunung yang dikunjungi warga Bali saat datang ke Banyuwangi dan sekitarnya. Ia menunjukkan lokasi di Gunung Fuji yang biasa digunakan warga Bali untuk melakukan upacara. Tak ada pura atau bangunan di sana, hanya daerah berbatu saja. Namun dari tempat yang sejuk itu pemandangan bebas terbuka. Kelap-kelip lampu kota nampak jelas dari sana. Esok hari panorama lepas yang indah pasti dapat disaksikan dari tempat itu.
Sambil menikmati nasi ikan penyet bungkusan dari pasar Kalakah, berulang kali mata kami arahkan ke gunung yang sebentar lagi akan didaki. Kabut telah pergi hingga sosok kokohnya nampak bagai silhouette. Senyum tersungging mana kala bintang mulai bermunculan di angkasa. “Terima kasih Tuhan, Kau beri kecerahan dalam pendakian ini,” syukur terucap dalam kalbuku.
Cuaca cepat sekali berubah. Menjelang tengah malam, saat bersiap untuk mendaki, hujan deras mengguyur. Ya sudah kami hanya bisa menunggu sambil tiduran di pendopo. Ada harapan terselip di hati. Semoga hujan menghapus semua mendung hingga esok tinggallah hari nan cerah.
Selepas hujan, segera saja kami susuri jalur yang berawal di belakang pendopo. Rupanya hanya kami berdua saja yang mendaki malam itu. Suasana segar dan basah mengiringi langkah kaki. Semak basah dengan senang hati menularkan kebasahannya ke tubuh kami.
Mulanya medan berupa jalanan landai menembus perladangan penduduk. Setapak berlumut memaksa kehati-hatian langkah agar tak tergelincir. Semak pun telah rimbun nenutupi sebagian jalur. Mungkin sudah lama tak ada atau hanya satu dua pengunjung ke sana.
Vegetasi kemudian berubah menjadi padang rumput dengan jalanan berbatu. Terbayang betapa panasnya bila kita menempuhnya di siang terik. Tak lama kemudian terhampar bebatuan vulkanik dengan celah-celah yang terbentuk diantaranya. Inilah yang dinamakan Watu Kesed. Mungkin karena bentuknya yang terhampar hingga orang menamainya demikian. Tanda dari cat putih digoreskan sebagai petunjuk jalan.
Sejam perjalanan dari pendopo, sampailah kami di Watu Gede. Tempat yang ditandai dengan batu besar di tengah padang. Nyaman sekali terasa manakala badan direbahkan di rerumputan. Terlebih taburan bintang menghias angkasa. Bintang jatuh berkali-kali melintas langit. Senyum terkembang menyambutnya. Make a wish, begitu kata orang bila melihatnya. “Aku ingin keliling dunia sebelum terlalu tua!” salah satu keinginan yang sempat terucap saat itu. Mungkin hanya tahayul, namun kami merasa larut dalam kegembiraan melantunkan aneka harapan. Setidaknya mimpi dan harapan merupakan langkah awal sebelum mewujudkannya, bukan?
Enggan rasanya meninggalkan kenikmatan Watu Gede. Apalagi dari sini jalur berbatu yang labil dan menanjak telah menanti. Tapi perjalanan masih panjang kami mesti tabah menjalani. Medan berbatu ini cukup menguras tenaga. Haus dan lapar segera menyergap tubuh. Akhirnya roti berselai coklat pun dikudap untuk menawarkannya.
Ada Pacetnya
Lepas jam tiga, kami masuki kawasan hutan. Gelap dan lembab terasa di tempat itu. Lumut menghiasi batang pohon dan bebatuan. Jalur bervariasi antara batu, pasir, dan batuan yang tertutup tanah dan vegetasi. Namun tetap saja batuan labil yang mendominasi. Untungnya ada akar dan batang di kiri kanan jalan yang bisa kita jadikan sebagai tumpuan menjejak keterjalan jalur.
Setengah jam kemudian terlihat sebuah guci ditanam pada cerukan batu. Air menetes dari batuan di atasnya. Inilah Posko Guci, yang menyediakan alternatif sumber air bagi pengunjung Lamongan. Di sepanjang jalur pendakian ke gunung ini memang tak ada sumber air lain yang dapat kita jumpai.
Belum ada jam lima pagi ketika akhirnya kami sampai ke puncak. Merebahkan diri di antara bebatuan sambil menunggu terbitnya matahari merupakan salah satu pilihan yang menggoda. Namun saya lebih suka menjelajahi kawasan puncak sambil menghirup nafas dalam-dalam. Segar dan menyenangkan sekali rasanya menunggu saat-saat mentari beranjak dari peraduannya.
Terang yang mulai nampak di lazuardi menarik untuk dipotret. Karena nggak bawa tripod, akhirnya saya mengabadikannya bertumpu pada bebatuan berlumut yang menghiasi puncak. Tiba-tiba di lengan  sudah menempel seekor pacet. Spontan saya berteriak sambil berlari menggibas-gibaskan tangan. Saya memang paling geli dengan jenis moluska itu. Yuda, teman perjalanan, yang terjaga dari tidurnya malah menertawakan saja kepanikan itu. Alhamdulillah lepas juga binatang penghisap darah itu, setelah sambil meringis saya paksakan jari ini melepasnya.
Akhirnya sunrise yang kami nantikan datang juga. Meski hanya semburatnya yang nampak akibat terhalang kabut. Tak apalah kami masih disuguhi gumpalan awan yang sedap di netra. Juga Argopura dan kepulan asap Jonggring Saloko Semeru nun jauh disana.
Bersama makin terangnya hari, bentang-bentang alam di bawah sana nampak jelas dan indah. Ranu Klakah dan Pakis nampak bagai dua lubang oval berkilauan. Di sebelah kirinya Ranu Bedali terlihat seperti mangkuk yg lebih kecil dibanding dua ranu lainnya. Ada juga bentukan seperti ranu tanpa air. Terlihat seperti cekungan yang dipenuhi vegetasi hijau. Daerah sekitar Gunung Lamongan memang kaya dengan danau tektonik atau yang sering disebut sebagai maar.
Tengah asyik mengabadikan semua keindahan itu, grip kamera terasa basah dan lengket. Ketika ditengok, ternyata berasal dari darah yang terus mengucur dari sela jari manis dan kelingking. Rupanya pacet telah meninggalkan kecupannya di sana. Untung saja dia telah pergi. Kalau masih ada, pasti bentuknya sudah gemuk dengan darah merah di tubuhnya. Duh nggak kebayang, pasti paniknya lebih heboh dari yang tadi hehe.
Zat anti pembekuan darah yang dikeluarkan mulut pacet cukup ampuh. Meski tak terasa perih atau apa, darah masih saja mengucur. Betadin tak mampu meredakannya. Solusinya kemudian hanya dibalut tissue saja agar darahnya tak mencemari kamera.
Lihat dari Dekat
Kawasan puncak Gunung Lamongan tak begitu lebar. Berupa kawasan yang mengelilingi jurang kawah. Namun kita tak dapat berjalan mengelilingi semua kawasan yang tersebut. Di sisi kiri terdapat lereng yang masih mengepulkan asap walaupun hanya tipis saja. Demikian juga di dalam jurang kawah. Walaupun lebih sedikit dibanding  di lerengnya.
Perjalanan menuruni Lamongan kami lakukan sekitar pukul setengah delapan pagi. Menuruni jalur berbatu yang labil ternyata tak segampang ketika naik. Perlu kehati-hatian agar tak terpeleset. Jadinya perjalanan kami menjadi lebih lamban. Terlebih berkali-kali berhenti karena tangan kami begitu tergoda untuk mengabadikannya.
Memasuki kawasan hutan, ternyata tak selebat yang kami bayangkan semalam. Mulanya banyak semak paku-pakuan terhampar di sana. Makin ke dalam pohon sejenis pandan terjulur melingkupi batang-batang pepohonan. Tak ada pohon berbatang besar di sepanjang perjalanan. Tapi cukup teduh berjalan di dalamnya.
Sesampai di pendopo Mbah Citro, perjalanan dilanjutkan ke Gunung Fuji. Penasaran dengan kondisinya di waktu terang. Ternyata tempat itu merupakan kawasan yang dibentuk oleh material vulkanis. Kemungkinan merupakan hasil letusan Gunung Lamongan di masa lalu. Ada alat pemantau kegempaan ditanam di sana.
Dari daerah terbuka ini pandangan mata bebas mengarah ke semua penjuru. Sambil duduk santai kita dapat menikmati sosok Gunung Lamongan dengan bilur-bilur tubuhnya yang berhias aneka vegetasi dan bebatuan. Juga memandang kota di arah sebaliknya. Beberapa pasangan terlihat memadu kasih di tempat ini.
Akhirnya perjalanan diakhiri ke Ranu yang dari puncak sudah melambai-lambai untuk dikunjungi. Karena waktu terbatas, kami hanya sempat mengunjungi Ranu Pakis. Danau yang nampak bagai cekungan oval berkilauan dari puncak, ternyata aslinya cukup luas. Keramba ikan menghiasi tepian danau. Dengan ongkos Rp 3.000,- kita dapat menikmati obyek wisata itu sepuasnya.(*)

GUNUNG SEMERU DAN PURA-PURA KAHYANGAN JAGAT DI BALI

Setelah mengungkap sekelumit eksistensi dan asal usul Gunung Semeru, secara
pantheon, menurut Tantu Panggelaran yang pada dasarnya adalah salah satu
sumber Upaweda, selanjutnya perlu dikemukakan lagi hubungan Gunung Semeru
dengan Pura-pura Khayangan Jagat di Bali, berdasarkan sumber-sumber
menuskrip tua, yang kini masih tersimpan di Bali.

Yang dimaksud pura-pura Khyangan Jagat di Bali adalah Pura-pura yang menjadi
pusat pemujaan umum masyarakat Umat Beragama Hindu, dimanapun dia berada.
Pura-pura yang tergolong sebagai Pura Khayangan Jagat adalah Pura Luhur
Lempuyang, Pura Andakasa, Pura Agung Besakih, Pura Ulundanu Batur, Pura
Luhur Watukaru, Pura Pucak Mangu dan Pura Manikcorong. Pura-pura ini
semuanya berlokasi di Pegunungan, dengan puncak-puncak Gunung masing-masing,
seperti Gunung Lempuyang, Gunung Andakasa, Gunung Agung, Gunung Batur,
Gunung Watukaru, dan Gunung Pucak Mangu.

Hubungan Pura-pura Khayangan Jagat di Bali dengan Gunung Semeru,
pengungkapannya mirip dengan kejadian pemindahan puncak gunung Mahameru di
India ke Tanah Jawa, seperti dikemukakan dalam Tantu Panggelaran. Dalam
lontar Raja Purana Sasana Candi Sapralingga Bhuana, dikemukakan keadaan
Balidwipa dan salaparangdwipa, masih sunyi senyap. Seolah-olah masih
mengambang di tengah lautan yang luas, bak perahu tanpa kemudi, oleng kesana
kemari, tak menentu arahnya. Pada waktu itu di Balidwipa hanya baru ada
Gunung Lempuyang di bagian Timur. Disebelah selatan Gunung Andakasa. Di
sebelah barat, Gunung Batukaru, disebelah utara Gunung Mangu dan Beratan.
Sehingga Balidwipa pada waktu itu masih labil dan goyang.

Keadaan Balidwipa yang masih labil dan bergoyang terus, diketahui oleh Dewa
Pasupati yang bersthana di Gunung Semeru. Agar Balidwipa menjadi stabil,
Dewa Pasupati memerintahkan Sanng Badawangnala, Sang Naga Anantaboga, Sang
Naga Basuki, Sang Naga Taksaka memindahkan bagian salah satu puncak Gunung
Semeru ke Balidwipa.

Sang Badawangnala, menjadi alas bagian puncak Gunung Semeru yang dipindahkan
ke Balidwipa, Naga Anantaboga dan Naga Basuki mengikat. Sedangkan Naga
Taksaka, juga mengikat dan menerbangkan ke utara. Bagian-bagian puncak
Gunung Semeru yang diterbangkan ke Balidwipa pada waktu itu, adapula
bagian-bagian yang rempak dan jatuh tercecer di Balidwipa, menjadi gunung
Batur, dan sebagian yang tidak tercecer menjadi Gunung Agung. kemudian
setelah itu, keadaan Balidwipa menjadi stabil. Sejak itu pula di Balidwipa
ada Sadpralinggagiri (enam sthana gunung), yakni Gunung Lempuyang, Gunung
Andakasa, Gunung Watukaru, Gunung Pucak Mangu atau Gunung Bratan, Gunung
Batur dan Gunung Agung.

Setelah keadaan Balidwipa menjadi stabil, kemudian Dewa Pasupati,
memerintahkan tiga istadewata atau prabhawanya, yang dalam penghayatan Agama
yang immanent, dikemukakan sebagai tiga putra-Nya. Ketiga Putra-Nya yang
diberi bhisama agar bersthana di Balidwipa menjadi sungsungan Raja-raja dan
Rakyat di Balidwipa, adalah Hyang Gnijaya, bersthana di Gunung Lempuyang.
Hyang Putrajaya, bersthana di Gunung Agung dan Hyang Bhatari (Dewi Danu),
bersthana di Gunung Batur. maka sejak itu, bagi Raja-raja dan Rakyat
Balidwipa, telah ada sungsungan Trilinggagiri (tiga sthana gunung).

Agar keadaan Balidwipa menjadi sempurna, kemudian Dewa Pasupati di Gunung
Semeru, memerintahkan lagi empat orang putranya untuk bersthana di
Balidwipa. Bhatara (Hyang) Tumuwuh, bersthana di Gunung Watukaru, Bhatara
(Hyang) Manik Gumawang, bersthana di Gunung Bratan (Pucak Mangu). Bhatara
(Hyang) Manik Galang, bersthana di Pejeng, Bhatara (Hyang) Tugu, bersthana
di Gunung Andakasa. Sejak itu Balidwipa, dikenal adanya Saptalinggasari,
tujuh gunung sebagai lingga, yang dalam penghayatan agama immanent selaras
dengan konsep dan sistem ajaran Upaweda, sebagai sthana putra-putra Dewa
Pasupati, yang bersthana di Gunung Semeru.

Pengungkapan pantheon Hindu, seperti yang dikemukakan di dalam Lontar Raja
Purana Sasana Candi Sapralingga Bhuana, kalau disimak dan dikaji, ada titik
temu dengan Lontar Usana Bali, yang ditulis oleh Danghyang Nirartha, atau di
Bali lebih dikenal sebagai Ida Pedanda Shakti Bawu Rawuh, salah seorang Wiku
Siwa yang datang dari Jawadwipa, sebagai wiku pembaharu sistem kehidupan
sosial agama Hindu di Bali dan Lombok.

Dalam karya tulisnya itu, ada dikemukakan Pelinggih Pura Catur Lokapala,
yakni di Purrwa (Timur), Gunung Lempuyang, dengan Pura Lempuyang Luhur,
sthana Bhatara Gnijaya, Ring Pascima, (Barat), Gunung Watukaru, dengan Pura
Luhur Watukaru, sthana Bhatara Hyang Tumuwuh, Ring Uttara (Utara), Gunung
Mangu, dengan Pura Ulundanu Bratan, sthana Bhatara Hyang Danawa, Ring
Daksina, (Selatan), Gunung Andakasa, dengan Pura ANdakasa, adalah sthana
Bhatara Hyang Tugu. Ditambah satu lagi Ring Madya,adalah Gunung Agung,
dengan Pura Besakihnya, pusat pemujaan Siwa Tri purusha (Prama Siwa,
Sadasiwa dan Siwa), lengkaplah menjadi Pancagiripralingga (lima gunung
sebagai sthana) lima Dewa.

Demikian titik temu antara konsep Lontar Raja Purana Sasana Candi
Sapralingga Bhuana dengan Lontar Usana Bali, yang telah dikemukakan. Selaras
dengan konsep gunung sebagai tempat suci dan Candi Pralingga, di dalam buku
upadesa, yang diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat
(sekarang) juga ada yang dikemukakan sembilan Khayangan Jagat, yang
berlokasi secara kardinal di Balidwipa. Berlokasi di sembilan gunung dengan
sembilan dewa-dewa yang bersthana di pura-pura Nawagiri yang kardinal,
sebagai istadewata Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Atau dengan kata lain
prabhawa kekuatan Hyang Widhi Yang Tunggal , yang dalam penghayatan agama
yang immament di Bali, lebih dikenal sebagai Dewata Nawasanga.

Dewata Nawasanga, yang bersthana secara kardinal, disembilan penjuru mata
angin, masing-masing adalah :
Gunung Lempuyang (Pura Lempuyang), ditimur tempat pemujaan istadewata Hyang
Widhi, sebagai Dewa Iswara.
Gunung Andakasa, di Selatan (Pura Andakasa), tempat memuja Dewa Brahma.

Gunung Watukaru (Pura Luhur Watukaru), di Barat, tempat memuja Dewa
Mahadewa.
Gunung Batur (Pura Ulundanu Batur), di Utara, tempat memuja Dewa Wisnu
Perbukitan Gua Lawah (Pura Gua Lawah), di Tenggara, tempat memuja Dewa
Mahesora.
Bukit Pecatu (Pura Luhur Uluwatu), di Baratdaya, tempat memuja Dewa Rudra.
Gunung Mangu (Pura Ulun Danu Bratan), di Baratlaut, tempat memuja Dewa
Sangkara.
Gunung Agung (Pura Agung Besakih) di Timur Laut, tempat memuja Dewa Shambu.
Juga Pura Agung Besakih, merupakan Khayangan Jagat (di tengah) tempat
pemujaan Dewa Siwa, Siwa Tripurusha (Paramasiwa, Sadasiwa, dan Si-wa)
seperti yang telah dikemukakan.

Dalam tradisi yang masih hidup sampai sekarang di Balidwipa, di Nawagiri
(sembilan gunung) dengan masing-masing puranya, kalau dilaksanakan pemujaan
dan persembahan di Pura-pura selalu melakukan Upacara Pemendak Tirtha,
beberapa hari sebelum upacara berlangsung. Dan kalau pelaksanaan pemujaan
dan persembahan telah selesai, akan dilanjutkan dengan Upacara Mancakarma,
atau mejejauman ke Gunung Semeru, yang bermakna selaku perwujudan
angayubagya atau sejenis upacara perwujudan terima kasih kehadapan Dewa
Pasupati, yang bersthana di Gunung Semeru.

Suatu pertanyaan, kenapa mesti memohon air suci ke Gunung Semeru, yang
sumbernya biasa diambil di Petirthan Watu Kelosot, melalui sungai Besuk Sat,
dekat Pedukuhan Tulungrejo, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang itu?

Jawabannya, tentu tidak terlepas dari adanya hubungan historis (Tradisi
Kecil dan Tradisi Besar), seperti yang telah dikemukakan. Atau juga walaupun
dikemukakan secara pantheon, dalam penghayatan ajaran agama yang immanent
dalam manuskrip-manuskrip tua yang masih terpelihara dengan baik di
Balidwipa sampai saat sekarang, dalam konsep ajaran-ajaran yang Siwaistis,
Gunung Semeru memang mempunyai hubungan dengan Pura-pura Khayangan Jagat di
Bali

Gunung Semeru tetap merupakan pusat, kalau kita meniti pada sumber-sumber
manuskrip yang telah dikemukakan. Konsep yang sama akan dapat pula kita
simak pada sumber-sumber manuskrip tua yang lain, seperti Raja Purana
Besakih, Raja Purana Ulundanu Batur dan Raja Purana Pura Jogan Agung.
Walaupun versi pengungkapannya berbeda-beda, tetapi visi Siwaistis, yang
mengarah ke Gunung Semeru sebagai sthana Dewa Pasupati, tetap selaras.
Demikian hubungan Gunung Semeru, dengan Pura-pura Kahyangan Jagat di Bali,
sehingga sejak dulu telah metradisi, Upacara Pemendak Tirtha, di Petirthan
Watu Klosot, yang berlokasi di kaki Gunung Semeru, bagian timur, di bawah
Watu Perahu, yang kini karena banjir lahar dingin sisa letusan Gunung Semeru
pada tahun-tahun lalu, telah lenyap.***


sumber: IB Oka Nila


GUNUNG SEMERU

Mahameru, adalah sebutan terkenal dari puncak Gunung Semeru dengan ketinggian ± 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl), menempatkan diri sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru termasuk salah satu dari gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur, terletak diantara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang dengan posisi geografis antara 7°51’ - 8°11’ Lintang Selatan, 112°47’ - 113°10’ Bujur Timur.
Puncak Gunung Semeru (Mahameru) dapat terlihat dengan jelas dari Kota Malang dan beberapa tempat lainnya dengan bentuk kerucut yang sempurna, tapi pada kondisi yang sebenarnya di puncak berbentuk kubah yang luas dengan medan beralun disetiap tebingnya. Kawah Jonggring Saloko pada tahun 1913 dan tahun 1946 mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava kebagian selatan daerah Pasirian, Candipura dan Lumajang.
Gunung Semeru adalah bagian termuda dari Pegunungan Jambangan tetapi telah berkembang menjadi strato-vulkano luas yang terpisah. Aktivitas material vulkanik yang dikeluarkannya berupa Letusan abu, lava blok tua dan bom lava muda, Material lahar vulkanik bercampur dengan air hujan atau air sungai, Letusan bagian kerucut yang menyebabkan longsoran, Pertumbuhan lambat/berangsur dari butiran lava dan beberapa kali guguran lahar panas.
Formasi geologi Gunung Semeru merupakan hasil gunung api kwarter muda, dengan jenis batuan terdiri dari : abu pasir/ tuf dan vulkan intermedian sampai basis dengan fisiografi vulkan serta asosiasi andosof kelabu dan regosol kelabu dengan bahan induk abu/pasir dab tuf intermedian sampai basis. Bentuk struktur geologi menghasilkan batuan yang tidak padat dan tidak kuat ikatan butirannya, mudah tererosi dimusim penghujan.
Jenis tanahnya adalah regosol, merupakan segabungan tanah dengan sedikit perkembangan profil dengan sedikit perkembangan profil dengan solum dangkal, tipis pada bahan induk kukuh. Pada umumnya ditempat tinggi lainnya, daerah sepanjang route perjalanan dari mulai Ranu Pane (2.200 m dpl) sampai Puncak Semeru mempunyai suhu relatif dingin. Suhu rata-rata berkisar antara 30C–80C pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 00C–120C kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan es yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau dan sebaliknya.
Dinginnya suhu disepanjang route perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menjadi udara semakin dingin. Berdasarkan topografi kawasan secara makro, pada tiupan angin membentuk pola yang tidak menentu dalam arti dominasi arah angin sulit ditentukan selalu berubah-ubah. Bentuk topografi yang dilingkari oleh tebing tinggi sekitar 200-500 meter sebenarnya memungkin dapat menahan arus kecepatan angin, tetapi karena banyak celah/lorong tebing tersebut, maka arus angin tidak tertahan bahkan melaju dengan kecepatan yang lebih cepat.

Topografi dan Iklim

Bentuk topografi yang berupa cekungan sering terjadi angin siklus. Angin yang bertiup dikawasan ini berkaitan erat dengan pola angin disekitarnya, yaitu Angin tenggara atau angin Gending, Angin timur laut dan Angin barat laut.
Kecepatan angin yang terjadi cukup kuat antara 8–30 knots, dimana saat musim angin kencang banyak dijumpai pohon tumbang. Angin ini bertiup antara bulan Desember – Pebruari, dan untuk mencegah bahaya disarankan agar wisatawan/pengunjung tidak melakukan pendakian ke gunung semeru.
puncak mahameru
Merupakan hal yang biasa bila terjadi kabut sepanjang route perjalanan pendakian pada pagi hari dan sore hari sampai malam hari. Didaerah Ranu Kumbolo dan Kalimati sebagai tempat untuk menginap/bermalam selalu ditutupi kabul yang tebal.
Keberadaan kabut yang terjadi didua tempat tersebut selain dinginnya suhu udara (proses kondensasi udara), juga angin yang bertiup didaerah tersebut sambil membawa kabut. Khusus di daerah Ranu Kumbolo dengan adanya danau yang cukup luas menjadi pendukung pembentukan kabut karena proses penguapan air danau.
Secara umum keadaan iklim di wilayah gunung Semeru dan sekitarnya termasuk type iklim B (Schmidt & Ferguson) dengan curah hujan antara 927 mm – 5.498 mm pertahun dan hari hujan 136 hari/tahun. Musim hujan jatuh sekitar bulan Nopember–April. Suhu udara di puncak Gunung Semeru pada bulan – bulan tersebut berkisar antara 2 derajat celcius – 4 derajat celcius.

Vegetasi dan Keanekaragaman Hayati

Vegetasi yang berada di wilayah Gunung Semeru dan sekitarnya yang termasuk dalam Zona Sub Alfin di dominir oleh jenis pohon Cemara Gunung (Casuarina Junghuhniana), Jumuju (Podocarpus sp), Mentigi (Vacinium varingifolium), Kemplangdingan (Albazialophanta) dan Akasia(Accasia decurrens).
Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominasi oleh Alang – alang (Imperata Cylindrica), Kirinyuh (Euphatorium odoratum), Tembelekan (Lantana camara), Harendong (Melastomo malabathicum) dan Edelwiss putih (Anaphalis javanica). Pada lereng – lereng yang curam menuju puncak Semeru sekitar Arcopodo dijumpai jenis paku-pakuan seperti Gleichenia volubilis, Gleichenia longisulus dan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di wilayah Semeru selatan.
Disekitar Gunung Semeru pada ketinggian lebih dari 3.100 meter dari permukaan laut, kondisinya merupakan batuan, pasir dan abu tanpa vegetsi sama sekali. Kehidupan fauna yang terdapat di sekitar Gunung Semeru sangat terbatas, baik jumlah maupuan jenisnya yang terdiri dari beberapa jenis burung, primata dan satwa liar lainnya, antara lain Macan Kumbang (Panthera pardus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus Javanica) dan lain – lain. Di Ranu Kumbolo terdapat Belibis (Anas superciliosa) yang masih hidup liar.

Rute Pendakian

Pada bulan-bulan libur sekolah, pendakian menuju Gunung Semeru bakal rame. Ranu Kumbolo yang menjadi favorit para pendaki dan sekaligus sebagai camp sementara untuk istirahat sebelum menuju puncak akan berubah menjadi perkampungan baru para pendaki dari berbagai penjuru. Untuk Menuju daerah awal pedakian kita bisa mengunakan dua jalur yaitu dari arah Senduro – Lumajang dan Tumpang-Malang.

Jalur Senduro–Lumajang

Jalur ini relatif sepi bagi pendakian karena belum begitu terkenal di kalangan pendaki, Akses transportasi juga masih agak susah dijumpai untuk menuju ke Ranu Pani dari Senduro. Bila kita melewati jalur sini kita bisa menikmati hutan hutan yang masih relatif alami dan tempat persembahyangan agama hindu di Senduro yang merupakan pura terbesar di Jawa. Dari Senduro ke Ranupani membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan bermotor. Dari setelah tiba di Ranupani perjalanan sama dengan jalur Tumpang –Malang.

Jalur Tumpang - Malang

Pendakian dari arah Malang merupakan jalur favorit karena ketersedian akses tranportasi dan akomodasi yang mudah di dapat. Kota malang yang merupakan kota yang memiliki banyak panorama alam yang indah serta tempat tujuan wisata yang mudah dicapai. Kota yang dijuluki sebagai tempat belajar yang nyaman ini memungkinkan kita berkunjung ke pencinta alam salah satu perguruan tinggi yang terdapat di kota ini.
Dari Kota Malang perjalanan di lanjutkan menuju ke Tumpang via Terminal Arjosari dengan Angkot selama + 30 menit. Di Tumpang kita bisa langsung naik jeep dengan tarif berkisar Rp.15.000 sampai 25.000,- atau Truk yang menuju ke Ranupani. Disini kita bisa juga bermalam di tempat pemilik jeep bila kita kemalaman dan besoknya melanjutkan perjalanan. Logistik bisa di dapat di sini serta sarana telepon juga sudah banyak.
kalimati
Dari Tumpang perjalanan dilanjutkan ke Ranu pani dengan melewati Gubuklakah, yang merupakan Desa penghasil apel lalu Ngadas, Tempat Suku tengger bermukim serta Jemplang–Bantengan ( Disini pemandangan ke Gunung Bromo nampak bagaikan hamparan permadani bila awal musin hujan mulai atau akan berahkir) . Perjalanan Tumpang ke Ranu pani membutuhkan waktu sekitar 4–5 jam.
Ranu Pani (2000 m dpl) adalah sebuah dusun terahkir perjalanan bermotor dengan luas 279 Ha. Ditempat ini terdapat Pos Pemeriksaan Pendaki Gunung dan fasilitas yang ada berupa Pondok Pendaki, Pondok Penelitian, Pusat Informasi dan Kantor Resort, Wisma Cinta Alam, Wisma tamu dan Bangunan Pengelola.
peta jelajah
Ditengah perkampungan Ranu Pani terdapat Danau (Ranu) Pani yang merupakan kawasan wisata yang mengasikan. Aktivitas memancing dan berjalan mengelilingi danau merupakan pengalaman yang terkesan. Dari Ranu Pani bila kita berjalan menyusuri jalan setapak lurus akan sampai di Ranu Regulo. (15 menit). Di Pos Ranu Pani kita juga dapat melakukan proses perijinan tetapi lebih baik perijinan dari kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 telp. 0341 – 491828.
Dari Ranu Pani perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan beraspal sepanjang ½ kilometer menuju jalan setapak pendakian menuju ke Ranu Kumbolo (2.390 m dpl). Melewati tanah pertanian daerah Watu Rejeng perjalanan menanjak di mulai. Disekitar perjalanan jalan ada yang tertutup oleh pohon tumbang/roboh ke jalan sehingga sesekali kita merayap di bawah tumbuhan rubuh. Nuansa perjalanan banyak dijumpai penduduk yang mencari kayu bakar serta burung di sepanjang route perjalanan.
Jarak dari Ranu Pani ke Watu Rejeng sekitar 5 Km dengan waktu temput 90 menit. Lalu untuk sampai di Ranu Kumbolo membutuhkan waktu 90 menit dengan jarak 5 km. dan di Ranu Kumbolo kita bisa bermalam. Total Perjalanan dari Rani Pani Ke Ranu Kumbolo 3–4 jam perjalanan dengan jarak sekitar 10 Km.
Ranu Kumbolo (2.390 m dpl) merupakan lembah dan terdapat danau/ranu yang luasnya 12 ha. Daerah ini tempat peristirahatan yang memiliki pemandangan dan ekosistem dataran tinggi yang asli. Panorama alam di pagi hari akan lebih menakjubkan berupa sinar matahari yang terbit dari celah – celah bukit menunjukan warna – warni yang membuat di sekitar danau berwarna kemerah–merahan dan kekuningan, ditambah uap air diatas danau seakan-akan keluar dari danau tersebut. Fasilitas yang terdapat disini berupa Pondok Pendaki dan MCK untuk istirahat dan memasak serta berkemah. Di daerah ini terdapat Prasasti peninggalan jaman purbakala dn diduga merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.
Dari Ranu Kumbolo kita bisa menuju ke Pangonan Cilik yang merupakan sebuah nama untuk kawasan padang rumput yang terletak di lembah Gunung Ayek-Ayek yang terletak tidak jauh dari Ranu Kumbolo. Asal usul tersebut oleh masyarakat setempat dikarenakan kawasan ini mirip dengan padang penggembalaan ternak (pangonan). Daya tarik dari kawasan ini merupakan lapangan yang relatif datar ditengah-tengah kawasan yang disekitarnya dengan konfigurasi berbukit-bukit gundul yang bercirikan rumput sebagai type ekosistem asli, sehingga memberikan daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.
Setelah dari Ranu Kumbolo perjalanan diteruskan ke Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta, yang merupakan tanjakan yang lumayan memeras tenaga dan diteruskan melewati Savana Oro-oro ombo (30 menit). Daerah ini merupakan padang rumput luasnya + 100 Ha berada pada sebuah lembah yang dikelilingi bukit–bukit gundul dengan tipe ekosistem asli tumbuhan rumput, lokasinya berada dibagian atas tebing yang bersatu mengelilingi Ranu Kumbolo. Padang rumput ini mirip sebuah mangkuk dengan hamparan rumput yang berwarna kekuningan, kadang – kadang pada beberapa tempat terendam air hujan.
Perjalanan diteruskan ke Cemoro Kandang memerlukan waktu sekitar 3–4 jam perjalanan pendakian dan diteruskan melewati Padang Rumput–Jambangan dan menuju ke Kalimati. Di sini kita dapat bermalam dengan fasilitas Pondok pendaki dan kebutuhan air untuk memesak dapat diambil dari Sumber Mani ( 15 Menit). Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati memerlukan waktu sekitas 4-5 jam perjalanan pendakian.
Setelah dari Kalimati kita menuju ke Arcopodo (2-3 jam). Arcopodo merupakan daerah yang berada dilereng puncak Gunung Semeru dan dapat digunakan untuk mendirika tenda gumn mencapai puncak Mahameru. Pagi hari setelah bermalam dari Kalimati atau Arcopodo perjalanana pendakian kita lanjutkan menuju ke puncak Jonggring Saloko dengan melewati tanah berpasir dengan kemiringan hampir 60 – 70 derajat. Diperlukan kewaspadaan khusus dalam melewati medan ini karena banyak batu – batu yang longsor oleh angin atau pendaki di atas kita. Perjalanan Arcopodo ke Puncak membutuhkan waktu 3-4 jam perjalanan pendakian.
Puncak Mahameru atau Puncak Jonggring Saloko memiliki keunikan pada setiap 10 – 15 menit sekali menyemburkan abu dan batuan vulkanik yang didahului semburan asa berwarna hitam kelam membumbung tinggi ke angkasa raya seakan – akan menyelimuti seluruh puncak. Suhu di puncak Mahameru kadang–kadang 0–4 derajat celcius yang disertai kabut yang tebal dan badai angin.

Zainuddin Minta Maaf, Aida Batal Minta Rumah


Jakarta Zainuddin MZ bersedia minta maaf pada Aida Saskia. Aida yang juga minta maaf pada Zainuddin kini pun tidak jadi meminta dai sejuta umat itu memenuhi janjinya, membelikannya rumah dan mobil.

"Kami dari pihak Aida tidak berharap janji-janji itu dipenuhi karena menghindari daripada dugaan komersialisasi," ujar pengacara Aida, Alamsyah Hanafiah, saat dihubungi detikhot melalui telepon Rabu (3/11/2010).

Sebelumnya dalam beberapa kali wawancara dengan media, Aida memang menekankan agar Zainuddin memenuhi janjinya. Selain minta maaf, janji dai yang kini kembali aktif berceramah itu juga dinantikannya.

Namun kini setelah Zainuddin mau meminta maaf, hati Aida pun luluh. Ia rupanya juga tidak mau dituding mengejar materi semata.

Zainuddin MZ rencananya akan mengungkapkan permintaan maafnya pada Aida dalam jumpa pers Selasa (9/11/2010). Dalam kesempatan tersebut, Aida juga akan minta maaf pada pria yang sebelumnya ia tuduh telah memperkosanya itu.

Semeru Paling Berbahaya Dibanding 3 Gunung di Jatim Lainnya


Surabaya - Gunung Semeru dianggap paling berbahaya apabila meletus. Dibanding Gunung Kelud, Bromo dan Ijen, Gunung Semeru di Lumajang diprediksi akan memberikan efek yang lebih dahsyat apabila saat meletus dibarengi hujan deras.

Hal ini diungkapkan oleh Pakar Kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh November, Amin Widodo, saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Selasa (2/11/2010).

"Seperti yang terjadi pada Merapi. Namun, keadaan cuaca yang seringkali hujan bisa menimbulkan dampak yang lebih dahsyat, bahkan bisa menimbulkan banjir lahar," kata Amin Widodo.

Letusan Gunung Semeru akan mengakibatkan banjir lahar bila dibarengi hujan deras. Akibatnya, aliran lahar diprediksi akan melewati lembah sungai yang mengitari Gunung Semeru. Baik sungai yang menuju Jember maupun Situbondo, tergantung arah materialnya. Namun, Amin menekankan, seringkali arah lahar menuju sungai yang mengalir ke arah selatan gunung yakni Jember.

"Seringkali ke arah Jember. Ini disebabkan karena lubang magma terbuka menganga ke arah selatan yang berarti ke arah Jember," tambahnya.

Beberapa indikasi yang wajib diwaspadai warga yakni, bila muncul bau belerang yang tercium menyengat hingga ke perkampungan penduduk. Disamping itu, bila akan terjadi letusan, hewan-hewan yang ada di atas gunung akan berbondong-bondong turun menuju kaki gunung.

Yang paling berbahaya bila hal ini terjadi malam hari, oleh karena itu penduduk juga harus peduli terhadap perkembangan gunung apalagi bila sudah mencapai status waspada.

Untuk mengantisipasi, kata Amin, penduduk sekitar sungai dan sekitaran Gunung Semeru hendaknya membentuk kelompok-kelompok siaga bencana. Penduduk sekitar gunung sudah seharusnya tanggap bila muncul kejadian aneh atau tanda-tanda bencana yang tiba-tiba muncul.

"Paling tidak, penduduk sudah menyiapkan koper, membereskan baju, surat-surat penting, hingga perlengkapan pribadi. Maka dari itu, bila sudah ada status waspada atau bahkan awas, penduduk sekitar harus benar-benar menyiapkan diri demi keselamatan," kata Amin mengimbau.

Sementara itu, Gunung Bromo yang terletak di Probolinggo diprediksi akan memiliki pusat semburan tepat di tengah gunung.

Gunung Ijen yang terletak diantara kabupaten Bayuwangi dan selatan Situbindo juga tidak diam. Gunung Ijen berpotensi mengeluarkan asam sulfat yang pekat bila mengalami kebocoran.

Gunung Kelud, tambah Amin, diprediksi memiliki jangka letusan 15 tahun sekali, terakhir pada tahun 2007.

Bupati Lumajang Divonis Bebas

Jember - Mantan Pj Bupati Jember Sjahrazad Masdar, yang kini menjabat sebagai Bupati Lumajang, divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember dalam sidang kasus korupsi dana bantuan hukum Pemkab Jember Rp 416 juta.

Majelis hakim yang diketuai R Hendral menilai, Masdar tidak bersalah melawan hukum ataupun melakukan tindak pidana korupsi. Hakim membebaskan Masdar dari dakwaan primer pasal 2 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan dakwaan subsider pasal 3 UU yang sama.

"Mengadili membebaskan terdakwa Sjahrazad Masdar dari dakwaan primer dan subsider," kata Hendral, Senin (1/11/2010).

Vonis bebas itu langsung disambut gembira oleh ratusan pendukung Masdar. "Hidup hakim, Allahuakbar," teriak pendukung Masdar. Masdar juga langsung melakukan sujud syukur setelah hakim mengetuk palu tanda sidang selesai.

"Alhamdullilah, hakim memakai hati nurani dalam membuat putusan," kata Masdar sambil meneteskan air mata.

Sjahrazad Masdar menjadi Pj Bupati Jember tahun 2005 lalu. Saat menjadi Pj, ia memberikan disposisi agar DPRD Jember mendapat bantuan hukum karena anggota dewan merupakan penyelenggara pemerintah kabupaten.

Dalam perjalanan waktunya, pemberian bantuan hukum itu dipermasalahkan. Sejumlah orang diseret ke meja hijau seperti mantan Kabag Hukum Pemkab Jember Mudjoko dan mantan Sekda Jember Djoewito.

Tetapi apa yang dilakukan Masdar, menurut majelis hakim tidak merugikan keuangan negara ataupun ada penyelewengan jabatan. Dengan pertimbangan itu, majelis hakim membebaskan Masdar. Jaksa penuntut umum Hari Wibowo belum memutuskan sikap apakah akan kasasi atau menerima vonis hakim